Laporan Investasi Indonesia; Apakah Krisis COVID-19 Berlarut-larut?

Itu adalah bulan pertama tahun yang berat bagi Indonesia. Jelas, krisis COVID-19 terus berlanjut (dan ada tanda-tanda untuk mengasumsikan krisis ini akan berlanjut sepanjang tahun 2021) dengan jumlah total infeksi COVID-19 yang dikonfirmasi di Indonesia sekarang telah melewati angka satu juta.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan, jumlah kasus baru yang dikonfirmasi terus menunjukkan tren meningkat (pada dasarnya sejak kasus pertama terdeteksi pada awal Maret 2020), sementara tingkat tes positif juga tidak hanya tetap tinggi, tetapi bahkan meningkat. lebih lanjut.

Tabel di bawah ini membandingkan jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19, jumlah tes yang dilakukan, dan tes positif pada minggu pertama dan terakhir Januari 2021. Dan itu menunjukkan peningkatan angka tes positif di Indonesia yang mengkhawatirkan. Meskipun (awalnya) kenaikan ini disebabkan oleh perayaan Natal dan Tahun Baru yang tidak aman, hal yang mengkhawatirkan adalah angka tersebut tetap tinggi (setidaknya) hingga akhir Januari 2021.

Di sisi lain, penting untuk selalu memperlakukan statistik dengan hati-hati. Misalnya, di tengah semi-lockdown di pusat-pusat ekonomi di Jawa dan Bali (yang dimulai pada 11 Januari 2021) lebih banyak orang cenderung tinggal di rumah daripada melakukan tes sendiri, sementara mereka yang memiliki gejala masih memaksakan diri untuk diperiksa. diuji. Ini kemudian dapat memicu kenaikan tingkat tes positif tetapi tidak berarti bahwa pandemi menjadi lebih buruk di negara ini. Sayangnya, kami tidak memiliki konteks penuh, dan oleh karena itu sulit untuk menafsirkan data ini dengan benar. Meski begitu, mengingat pemberitaan di media lokal menginformasikan bahwa tingkat hunian di rumah sakit rujukan COVID-19 meningkat hingga 80 persen selama sebulan terakhir, tentu mengkhawatirkan.

Vaksin COVID-19 Sudah Tiba, Tapi Politisi dan Media Arus Utama Memberi Harapan Palsu?

Bulan lalu, kami mulai sedikit optimis setelah membaca laporan bahwa program imunisasi COVID-19 mulai marak, baik di Indonesia (per 13 Januari 2021) maupun di luar negeri. Apalagi, dilaporkan vaksin Pfizer dan Moderna memiliki tingkat efikasi sekitar 95 persen.

Di media mainstream diberitakan seolah-olah akhir dari krisis COVID-19 sudah di depan mata. Laporan media semacam itu jelas didasarkan pada pernyataan yang dibuat oleh politisi, organisasi internasional (termasuk LSM), dan perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin.

Sayangnya, setelah melakukan beberapa penelitian, kami sampai pada kesimpulan bahwa sebagian besar laporan tentang tingkat kemanjuran vaksin serta kemungkinan vaksin yang ada memicu penghentian cepat pembatasan sosial dan bisnis pemerintah (atau penguncian) adalah dangkal, dan tentu tidak didasarkan pada jurnalisme investigasi. Dan ini adalah pengingat lain bahwa orang perlu melakukan penelitian mereka sendiri jika mereka ingin mendapat informasi yang lebih akurat atau – setidaknya – mendapatkan persepsi yang lebih seimbang tentang realitas.

Update Ekonomi Indonesia: Kasus Baru COVID-19 Turun; Ruang untuk Rebound dalam Kegiatan Ekonomi?

Kami mendeteksi perkembangan yang sangat positif selama dua bulan terakhir. Jumlah kasus baru terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia terus menurun drastis, tren yang dimulai sejak awal Februari 2021. Sementara pada 1 Februari 2021 ditemukan 10.994 kasus baru infeksi COVID-19, jumlah ini hampir dibelah dua saat kita memasuki April 2021 (lihat grafik di bawah).

Tren ini juga dikonfirmasi oleh data yang diambil dari kompleks apartemen Wisma Atlet di Jakarta Pusat. Kompleks yang diubah menjadi rumah sakit darurat pada awal 2020 ini memiliki hampir 6.000 tempat tidur yang tersedia untuk merawat pasien COVID-19. Sementara pada akhir Februari 2021 tingkat okupansi Wisma Atlet sedikit di atas 80 persen, angka tersebut turun menjadi 38,3 persen pada akhir Maret 2021. Namun, berdasarkan bukti anekdot, ‘rumah sakit konvensional’ di Indonesia tidak melihat penurunan yang begitu drastis. penurunan pasien COVID-19. Penjelasannya bisa jadi rumah sakit memiliki keterbatasan kapasitas untuk merawat pasien (berlawanan dengan ribuan tempat tidur yang tersedia di Wisma Atlet), sehingga mudah kebanjiran pasien. Apalagi rumah sakit hanya menerima orang-orang yang sangat membutuhkan perawatan medis, sedangkan Wisma Atlet terutama digunakan sebagai tempat isolasi diri bagi mereka yang menerima hasil tes positif. Jadi, tidak meredanya tekanan terhadap rumah sakit, bukan berarti pandemi di Indonesia dalam dua bulan terakhir tidak mereda.